Sabtu, 20 Januari 2018

Malam mingguan

udah lama banget gak malam mingguan. bukan karena lagi malas sih, tapi karena sebelum malam minggu udah di ajak keluar duluan ama teman.
tapi, khusus malam minggu ini...diajakin sama si suci ke tempat yang ada wifi nya. buat apa ? minta ajarin buat blog katanya hahahaha.
sok iye banget lah mau ngajarin blog sama si suci, secara yang punya blog ini juga gak tahu apa - apa soal blog. ngajarinnya sambil buka google hahahaha.
ini orang nya lagi duduk di sebelah. ngapain? lagi buat tulisan pertama untuk buat blog nya. saya sambil nungguin, buka - buka youtube, nulis juga ....yang tulisannya asal banget lah.
pengennya tahun ini bisa konsisten nulis paling gak 2 tulisan setiap bulan. tahun kemaren, alhamdulillahm bisa istiqomah nulis 1 tulisan per bulan #yipppppiiiiieee. padahal isinya juga bukan tulisan penting kayak blog nya orang - orang yang lain.
hmmmmm....penyakit datang, suka ilang ide di tengah - tengah tulisan. ya udahlah...udah dulu ya.

eh kalau mau ngintip tulisannya si suci bisa ke sini tulisannya suci

Rabu, 03 Januari 2018

AAC 2

Tulisan pertama di tahun 2018. saya akan menulis tentang review film AAC 2, yang akhirnya saya putuskan untuk nonton, setelah mengalami pergulatan batin (#halaaaah).
Pada awalnya, sebenarnya saya tidak terlalu tertarik untuk menonton film ini. karena pertama saya gak baca bukunya, dan saya tidak terlalu suka film Indonesia.

Waktu itu janjian sama teman buat nonton. Walaupun keinginan buat nonton itu hanya sekitar 60%. Maju mundur mau nonton. Apalagi ditambah baca review – review tentang film ini. makin mundurlah mau nonton. Tapi, pada akhirnya saya memutuskan untuk menonton, dengan niat mengapresiasi film bertema Islami. Saya mikirnya, ya kalau saya dengan mudah mengeluarkan tiket untuk menonton film barat yang gak ada unsur dakwahnya hanya karena saya suka. Masak sih untuk film bertemakan dakwah ini, saya gak mau. Jadilah, akhirnya saya memutuskan untuk nonton. Berusaha untuk melupakan review – review yang sudah saya baca. (insyaAllah di akhir tulisan, akan saya sertakan link review – review film tersebut), walaupun tetap gak bisa hahahaha.

Selasa, 19 Desember 2017

Kamu Bahagia ?

Kamu bahagia?
Tiba – tiba saja ada yang bertanya seperti itu sama saya . ketika saya tanyakan kenapa pertanyaan itu ditujukan ke saya, si penanya hanya bilang bahwa dia penasaran dengan hidup saya. Kok kayaknya gak ada beban . saya cukup heran sih, kalau dia memang melihat hidup saya seperti tidak ada beban, lalu kenapa dia bertanya apakah saya bahagia. Si penanya lalu menjelaskan bahwa mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah Apakah saya benar – benar bahagia dengan hidup saya?.
Ketika saya menjawab bahwa saya bahagia pun, si penanya sepertinya tak percaya...berkali – kali dia bertanya untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa saya benar bahagia. Lalu saya pun bertanya pada si penanya kenapa dia bertanya tentang itu. Ternyata dia cukup heran dengan saya yang masih berstatus Single dan tetap santai – santai saja, masih bisa tertawa bahagia. Padahal dia punya teman yang usianya jauh di bawah saya, tapi hari – harinya galau karena jodoh belum datang menghampiri.

Jumat, 15 Desember 2017

MasBul

Sebelumnya pemberitahuan dulu, ini Cuma cerita iseng saja :D.
Jadi ceritanya tanggal 14 Desember 2017 kemaren, saya dan teman saya, sebut saja Suci (nama sebenarnya) jalan – jalan ke Tugu Khatulistiwa. Secara lah ya, meskipun Tugu Khatulistiwa berada di negara  Siantan, yang notabene satu wilayah dengan kami tinggal, tapi jarang (pake) banget kami mengunjungi Tugu kebanggaan masyarakat Kalbar itu.
Saat memasuki kawasan tugu (yang sekarang ini sedang tahap pembangunan), saya melihat sesosok #halah MasBul alias Mas Bule yang berdiri di atas mobil sambil selfie atau lagi live (ntah live IG, FB atau yg lain, gak nanya juga sih), maaf ya masbul saya abadikan tanpa permisi... keliatannya si masbul senang banget akhirnya kesampaian foto dengan latar belakang Tugu Khatulistiwa.
Mobilnya si MasBul dengan dia di atas Kap Mobil

Selasa, 12 Desember 2017

34 Tahun

Alhamdulillah... alhamdulillah...alhamdulillah...atas segala limpahan Rahmat dan berkah yang Allah curahkan dalam kehidupan saya 34 tahun ini. sesungguhnya tak ada yang harus dirayakan dalam hal ini, kecuali kesadaran bahwa waktu di dunia semakin menipis.
Tak ada yang pantas terucap dari lisan kecuali ucapan hamdalah atas segala nikmat yang Allah berikan. Nikmat keluarga yang baik, nikmat saudara – saudara yang baik, nikmat teman – teman yang baik yang selalu mengingatkan dalam kebaikan, menjaga agar selalu istiqomah.... dan yang paling utama adalah Nikmat Iman yang masih bersemayam di dada. Dan berharap nikmat iman itu bertahan hingga malaikat maut menjemput.
Tak akan cukup rasanya menuliskan semua nikmat yang Allah berikan dalam hidup saya.

Minggu, 26 November 2017

Sudah siap?

Sudah siap?
Banyak yang bertanya:
Apa kriteria siap menikah?

Ini jawaban versi pak cah.

10 pertanyaan ukur kesiapan menikah.
By. Cahyadi Takariawan

Saya sering menuliskan, bahwa persiapan sebelum menikah itu meliputi persiapan spiritual, persiapan  mental, persiapan konsepsional, persiapan material, persiapan fisik dan persiapan sosial. Namun bukan hanya enam jenis persiapan itu yang diperlukan, para bujangwan dan bujangwati masih perlu merenung dan memikirkan masak-masak seperti apa kondisi orang setelah menikah.

Coba bayangkan beberapa hal yang terjadi setelah menikah berikut ini, dan tanyakan kepada diri sendiri apakah anda sudah siap untuk menghadapinya.

1. Apakah Anda Siap Melepas Kebebasan?

Salah satu hal yang sangat berbeda antara lajang dengan orang yang sudah berumah tangga adalah dalam  hal kebebasan. Saat masih lajang, anda bebas melakukan apa saja. Anda bebas makan dimana, jam  berapa, menunya apa. Semua terserah anda. Anda bebas mau mandi atau tidak mandi, mau mandi jam berapa, berapa kali sehari atau berapa kali sepekan, semua terserah anda.

Setelah menikah, anda tidak lagi memiliki kebebasan itu. Semua kebebasan anda itu hilang, karena anda memasuki kawasan bertanggung jawab. Anda harus menenggang perasaan pasangan anda atas semua perilaku, kebiasaan hidup, tutur kata, bahkan mimik wajah atau bahasa tubuh anda. Anda tidak bisa bersikap semau sendiri, karena anda harus membahagiakan pasangan.

2. Apakah Anda Siap Berbagi dalam Semua Hal?

Dulu anda naik motor atau mobil sendiri, kini anda harus berbagi. Dulu anda asyik ngenet sendiri, kini ada pasangan yang bisa mencemburui. Dulu anda bisa keluar malam sendiri, kini anda tidak bisa bebas lagi. Dulu anda bisa makan ke warung bakso sendiri, kini anda tidak bisa semau sendiri. Dulu anda mau tidur  dan bangun jam berapapun dengan bebas, kini anda tidak bebas lagi. Ini semua karena anda harus berbagi dengan pasangan dalam sangat banyak hal.

3. Apakah Anda Siap Menaiki “Roller Coaster” Kehidupan?

Hidup berumah tangga itu ada kemiripannya dengan menaiki roller coaster. Jika anda naik roller coaster, akan melewati saat yang wajar dan biasa saja, ada saat ketegangan, ada saat histeria, ada pula antiklimaks  berupa kelegaan. Akan ada banyak sekali suka dan duka yang akan dijumpai dalam kehidupan pernikahan. Tapi kebersamaan yang kuat antara suami istri akan menjadikan mudah melewati semua bentuk krisis atau masalah.

4. Apakah Anda Siap Terkejut Karena Menemukan Hal Baru dari Pasangan?

Sahabat muda, sebelum menikah, apalagi bagi mereka yang melewati masa pacaran, bisa jadi anda merasa telah mengenal banyak hal dari pasangan. Orang pacaran lebih banyak menampilkan kebohongan demi menyenangkan pasangan. Maka anda akan menemukan banyak sekali hal baru setelah menikah dan hidup berdua bersama pasangan. Hal-hal yang menjadi jati diri pasangan yang sesungguhnya.

Apalagi bagi pasangan yang tidak melewati masa pacaran, hanya berbekal masa ta’aruf secara Islami untuk menjaga hati. Pengenalan tentu tidak mendalam, karena lebih banyak sisi kesamaan visi dan keyakinan akan kebaikan calon pasangan. Maka setelah menikah, setiap hari adalah hari baru untuk lebih banyak tahu tentang kondisi pasangan. Anda akan terus dikejutkan dengan banyak hal baru dari pasangan yang belum pernah anda ketahui sebelumnya. Maka bersiaplah menghadapi hari-hari penuh kejutan itu.

Rabu, 25 Oktober 2017

Film Pengabdi Setan

Oktober hampir berakhir, dan baru 1 tulisan yang di share di blog. Yaaaa, seperti biasalah, ide banyak.. tapi begitu mau dituangkan menjadi sebuah tulisan, lalu nge-blank atau tiba2 stag ditengah menulis. Tapi, ya demi menepati janji pada diri sendiri untuk tetap berusaha maksimal ngisi ini blog biar gak karatan. Jadi ini cerita soal saya (akhirnya) terpaksa nonton film horor Pengabdi Setan.

Jadi ceritanya, beberapa minggu lalu sepupu mengajak saya untuk nonton film horor Pengabdi Setan. Karena saya tahu diri saya akan mudah sekali terbayang – bayang, jadi saya memilih jalan aman untuk tidak nonton film horor. Awalnya sepupu pasrah karena saya gak mau. Ealah, seminggu kemudian ternyata dia mencoba membujuk saya lagi. Saya kan pada dasarnya gak tegaan gitu ya, selain karena agak – agak penasaran dengan film yang di sebut – sebut sebagai film horor Indonesia terseram saat ini. jadi lah saya mulai luluh. Tapi, karena gak mungkin saya balik malam sendirian (terpaksa nonton malam, karena suaminya sepupu Cuma bisa malam), jadilah saya ngebujuk ibu saya buat ikutan nonton, dan saya bilang... kalau selesai nonton, saya ketakutan maka saya bakal tidur bareng ibu saya (hahahahaha...dasar saya penakut). Karena ibu setuju, jadilah kami nonton film horor di malam jum’at (emang kenapa? Ya gak papa sih hahahaha).
 

MyHistory Template by Ipietoon Cute Blog Design and Homestay Bukit Gambang

Blogger Templates