Jumat, 15 Desember 2017

MasBul

Sebelumnya pemberitahuan dulu, ini Cuma cerita iseng saja :D.
Jadi ceritanya tanggal 14 Desember 2017 kemaren, saya dan teman saya, sebut saja Suci (nama sebenarnya) jalan – jalan ke Tugu Khatulistiwa. Secara lah ya, meskipun Tugu Khatulistiwa berada di negara  Siantan, yang notabene satu wilayah dengan kami tinggal, tapi jarang (pake) banget kami mengunjungi Tugu kebanggaan masyarakat Kalbar itu.
Saat memasuki kawasan tugu (yang sekarang ini sedang tahap pembangunan), saya melihat sesosok #halah MasBul alias Mas Bule yang berdiri di atas mobil sambil selfie atau lagi live (ntah live IG, FB atau yg lain, gak nanya juga sih), maaf ya masbul saya abadikan tanpa permisi... keliatannya si masbul senang banget akhirnya kesampaian foto dengan latar belakang Tugu Khatulistiwa.
Mobilnya si MasBul dengan dia di atas Kap Mobil

Selasa, 12 Desember 2017

34 Tahun

Alhamdulillah... alhamdulillah...alhamdulillah...atas segala limpahan Rahmat dan berkah yang Allah curahkan dalam kehidupan saya 34 tahun ini. sesungguhnya tak ada yang harus dirayakan dalam hal ini, kecuali kesadaran bahwa waktu di dunia semakin menipis.
Tak ada yang pantas terucap dari lisan kecuali ucapan hamdalah atas segala nikmat yang Allah berikan. Nikmat keluarga yang baik, nikmat saudara – saudara yang baik, nikmat teman – teman yang baik yang selalu mengingatkan dalam kebaikan, menjaga agar selalu istiqomah.... dan yang paling utama adalah Nikmat Iman yang masih bersemayam di dada. Dan berharap nikmat iman itu bertahan hingga malaikat maut menjemput.
Tak akan cukup rasanya menuliskan semua nikmat yang Allah berikan dalam hidup saya.

Minggu, 26 November 2017

Sudah siap?

Sudah siap?
Banyak yang bertanya:
Apa kriteria siap menikah?

Ini jawaban versi pak cah.

10 pertanyaan ukur kesiapan menikah.
By. Cahyadi Takariawan

Saya sering menuliskan, bahwa persiapan sebelum menikah itu meliputi persiapan spiritual, persiapan  mental, persiapan konsepsional, persiapan material, persiapan fisik dan persiapan sosial. Namun bukan hanya enam jenis persiapan itu yang diperlukan, para bujangwan dan bujangwati masih perlu merenung dan memikirkan masak-masak seperti apa kondisi orang setelah menikah.

Coba bayangkan beberapa hal yang terjadi setelah menikah berikut ini, dan tanyakan kepada diri sendiri apakah anda sudah siap untuk menghadapinya.

1. Apakah Anda Siap Melepas Kebebasan?

Salah satu hal yang sangat berbeda antara lajang dengan orang yang sudah berumah tangga adalah dalam  hal kebebasan. Saat masih lajang, anda bebas melakukan apa saja. Anda bebas makan dimana, jam  berapa, menunya apa. Semua terserah anda. Anda bebas mau mandi atau tidak mandi, mau mandi jam berapa, berapa kali sehari atau berapa kali sepekan, semua terserah anda.

Setelah menikah, anda tidak lagi memiliki kebebasan itu. Semua kebebasan anda itu hilang, karena anda memasuki kawasan bertanggung jawab. Anda harus menenggang perasaan pasangan anda atas semua perilaku, kebiasaan hidup, tutur kata, bahkan mimik wajah atau bahasa tubuh anda. Anda tidak bisa bersikap semau sendiri, karena anda harus membahagiakan pasangan.

2. Apakah Anda Siap Berbagi dalam Semua Hal?

Dulu anda naik motor atau mobil sendiri, kini anda harus berbagi. Dulu anda asyik ngenet sendiri, kini ada pasangan yang bisa mencemburui. Dulu anda bisa keluar malam sendiri, kini anda tidak bisa bebas lagi. Dulu anda bisa makan ke warung bakso sendiri, kini anda tidak bisa semau sendiri. Dulu anda mau tidur  dan bangun jam berapapun dengan bebas, kini anda tidak bebas lagi. Ini semua karena anda harus berbagi dengan pasangan dalam sangat banyak hal.

3. Apakah Anda Siap Menaiki “Roller Coaster” Kehidupan?

Hidup berumah tangga itu ada kemiripannya dengan menaiki roller coaster. Jika anda naik roller coaster, akan melewati saat yang wajar dan biasa saja, ada saat ketegangan, ada saat histeria, ada pula antiklimaks  berupa kelegaan. Akan ada banyak sekali suka dan duka yang akan dijumpai dalam kehidupan pernikahan. Tapi kebersamaan yang kuat antara suami istri akan menjadikan mudah melewati semua bentuk krisis atau masalah.

4. Apakah Anda Siap Terkejut Karena Menemukan Hal Baru dari Pasangan?

Sahabat muda, sebelum menikah, apalagi bagi mereka yang melewati masa pacaran, bisa jadi anda merasa telah mengenal banyak hal dari pasangan. Orang pacaran lebih banyak menampilkan kebohongan demi menyenangkan pasangan. Maka anda akan menemukan banyak sekali hal baru setelah menikah dan hidup berdua bersama pasangan. Hal-hal yang menjadi jati diri pasangan yang sesungguhnya.

Apalagi bagi pasangan yang tidak melewati masa pacaran, hanya berbekal masa ta’aruf secara Islami untuk menjaga hati. Pengenalan tentu tidak mendalam, karena lebih banyak sisi kesamaan visi dan keyakinan akan kebaikan calon pasangan. Maka setelah menikah, setiap hari adalah hari baru untuk lebih banyak tahu tentang kondisi pasangan. Anda akan terus dikejutkan dengan banyak hal baru dari pasangan yang belum pernah anda ketahui sebelumnya. Maka bersiaplah menghadapi hari-hari penuh kejutan itu.

Rabu, 25 Oktober 2017

Film Pengabdi Setan

Oktober hampir berakhir, dan baru 1 tulisan yang di share di blog. Yaaaa, seperti biasalah, ide banyak.. tapi begitu mau dituangkan menjadi sebuah tulisan, lalu nge-blank atau tiba2 stag ditengah menulis. Tapi, ya demi menepati janji pada diri sendiri untuk tetap berusaha maksimal ngisi ini blog biar gak karatan. Jadi ini cerita soal saya (akhirnya) terpaksa nonton film horor Pengabdi Setan.

Jadi ceritanya, beberapa minggu lalu sepupu mengajak saya untuk nonton film horor Pengabdi Setan. Karena saya tahu diri saya akan mudah sekali terbayang – bayang, jadi saya memilih jalan aman untuk tidak nonton film horor. Awalnya sepupu pasrah karena saya gak mau. Ealah, seminggu kemudian ternyata dia mencoba membujuk saya lagi. Saya kan pada dasarnya gak tegaan gitu ya, selain karena agak – agak penasaran dengan film yang di sebut – sebut sebagai film horor Indonesia terseram saat ini. jadi lah saya mulai luluh. Tapi, karena gak mungkin saya balik malam sendirian (terpaksa nonton malam, karena suaminya sepupu Cuma bisa malam), jadilah saya ngebujuk ibu saya buat ikutan nonton, dan saya bilang... kalau selesai nonton, saya ketakutan maka saya bakal tidur bareng ibu saya (hahahahaha...dasar saya penakut). Karena ibu setuju, jadilah kami nonton film horor di malam jum’at (emang kenapa? Ya gak papa sih hahahaha).

Senin, 02 Oktober 2017

Oleh oleh dari Workshop ASI bersama AIMI

Sebelumnya saya ingin memberitahukan bahwa tulisan saya kali ini cukup panjang. Walaupun tidak bisa 100% saya tuangkan apa yang saya dapat, sekiranya ini lah yang bisa saya bagi buat para calon ibu dan ibu Menyusui.
Mumpung masih segar dalam ingatan, di hari pertama bulan Oktober ini, saya akan berbagi materi tentang ASI. Pas tadi(1 Oktober 2017) pagi hingga siang hari, saya mengikuti Workshop tentang ASI.
Ada 3 pemateri dalam Workshop ASI kali ini, ibu dr. Utami Roesli, SpA, IBCLC, FABM (panjang ya gelarnya, dan saya gak tahu kepanjangan dari singkatan gelar tersebut). dr. Utami ini adalah seorang ibu yang sudah cukup sepuh, usianya (kalau saya gak salah dengar) udah 73 thn, beliau memaparkan tentang Keutamaan dan Manfaat Menyusui. dr. Utami menjelaskan bahwa seharusnya bukan ASI Eksklusif melainkan Menyusui Eksklusif. Bayi menyusu eksklusif selama 6 bulan, tanpa tambahan makanan apapun, dan menyusui hingga 2 tahun. Ternyata pemberian ASI terhadap bayi baru lahir dimulai sejak bayi lahir, dinamakan IMD (Inisiasi Menyusu Dini). IMD dimulai secepatnya, segera setelah bayi lahir. caranya setelah bayi lahir, bayi ditengkurapkan di dada ibu sehingga KULIT BAYI MELEKAT PADA KULIT IBU MINIMAL 1 (SATU) JAM.

Selasa, 12 September 2017

Jujur dalam Menasehati

Kadang (atau) bahkan sering, orang – orang bermanis – manis di depan kita, tapi di belakang kita, ngomongin kita. Saya juga kayak gitu.... namun, sekarang sedang diusahakan untuk dirubah.
Pada dasarnya saya ini orang yang gak pandai basa – basi. Senangnya to the point, hal ini yang seringkali dikeluhkan oleh sebagian teman – teman saya. Apalagi saya termasuk orang yang gak bisa pura – pura. Ekspresif, jadi apa yang saya rasakan, kemungkinan besar akan terlihat dari ekspresi wajah saya. Saya gak bisa pura – pura baik dengan orang yang gak saya suka. Syukurnya, sedikit sekali orang yang saya gak suka.
Nah terkait dengan judul tulisan ini. Seringnya kita merasa gak enak ketika menasehati orang lain. Karena seperti ada dinding tak kasat mata yang menghalangi. Kata – kata yang muncul dalam pikiran adalah “aaaah, nanti dia tersinggung”....atau ...”aduh, ntar dia marah sama aku”. Padahal, menurut saya, kejujuran tetap harus di utarakan mesti pahit.

Rabu, 06 September 2017

Ujian dan rasa Syukur


 Setiap kita punya ujiannya masing – masing, kadarnya tak pula sama...ada yang mungkin lebih ringan, ada yang lebih berat. Tapi, tak juga bisa kita samakan kadar ujian setiap orang. Karena bisa jadi, bila suatu perkara yang terjadi pada kita, kita anggap sebagai ujian yang berat.... mungkin di pandang orang, ujian kita tak seberapa. Begitu juga sebaliknya. Jadi, memang bukan tugas kita untuk men’judge’ ujian yang sedang di hadapi seseorang.
Cara orang – orang menghadapi ujian pun berbeda – beda. Ada yang menanggapi ujian dengan santai, ada pula yang sampai stress ketika di hadapkan dengan ujian.
Ada yang menganggap ujian sebagai bentuk sayang Allah pada hamba-NYA. Menguji sampai sejauh mana sang hamba berhusnudzon dengan PENCIPTAnya. Tapi, tak sedikit pula yang menganggap ujian dari Allah itu sebagai bentuk “jahatnya” Allah. Naudzubillah....
 

MyHistory Template by Ipietoon Cute Blog Design and Homestay Bukit Gambang

Blogger Templates